Image description
Image captions

TNI Angkatan Laut (TNI AL) dan Kementerian Pertahanan Belanda membahas isu keamanan infrastruktur bawah laut atau Critical Underwater Infrastructure (CUI) dalam pertemuan yang digelar di Gedung Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda, Jakarta, Selasa (10/2).

Pertemuan tersebut dihadiri delegasi TNI AL yang dipimpin Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksamana Pertama TNI Salim selaku Ketua Delegasi TNI AL, serta delegasi Kementerian Pertahanan Belanda yang dipimpin Rear Admiral Jeanette Morang (RNLN) bersama Young Defence Study Trip yang terdiri atas 26 orang.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari penguatan kerja sama dan pertukaran pandangan strategis antara TNI AL dan Kementerian Pertahanan Belanda, khususnya terkait dinamika keamanan maritim pada domain dasar laut (seabed domain).

Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat bahwa dasar laut telah berkembang menjadi domain strategis yang aktif dan memiliki nilai penting, tidak hanya sebagai jalur kabel dan pipa bawah laut, tetapi juga sebagai bagian vital dari sistem ekonomi, keamanan, dan konektivitas global. Infrastruktur bawah laut seperti kabel komunikasi dan pipa migas dinilai memiliki kerentanan karena sifatnya yang tersembunyi dan sulit diawasi.

Pembahasan juga menyoroti ancaman gray-zone dan hybrid di domain bawah laut yang bersifat ambigu, sulit diatribusikan secara politik, serta memanfaatkan celah hukum internasional dan lemahnya koordinasi antarnegara. Di kawasan Asia Tenggara, gangguan terhadap infrastruktur dasar laut di satu negara dinilai berpotensi menimbulkan dampak lintas batas terhadap ekonomi digital, energi, komunikasi, dan stabilitas kawasan.

Indonesia Dorong Kewaspadaan

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Delegasi TNI AL menegaskan Indonesia akan terus mendorong kewaspadaan terhadap isu keamanan dasar laut agar mendapat perhatian di tingkat ASEAN, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara strategis di kawasan.

Kerjasama Kawasan

“TNI Angkatan Laut memandang perlu menyiapkan usulan konseptual mengenai penataan dan pengamanan sistem pipa serta kabel bawah laut untuk diusung dalam berbagai forum diskusi dan kerja sama keamanan maritim di kawasan,” ujar Laksamana Pertama TNI Salim.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman bersama serta membuka peluang kerja sama yang lebih erat dalam menjaga keamanan dan stabilitas domain maritim, khususnya terkait infrastruktur bawah laut strategis.