Image description
Image captions

Tuduhan radikal Gerakan Anti Radikalisme (GAR) ITB kepada Prod Dr Din Syamsuddin menuai banyak kecaman. Dukungan kepada tokoh Muhammadiyah itu juga disampaikan para tokoh muslim maupun nonmuslim. Di sisi lain, tuduhan itu dinilai sebuah gerakan sistematis untuk mendiskreditkan tokoh, ulama, umat, dan bahkan Islam. Juga berpotensi menumbuhkan spirit Islamofobia.

 

 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim, melihat tudingan Din terlibat radikalisme, merupakan gerakan sistematis. Ia khawatir ada gerakan yang menjadikan isu radikalisme untuk mendiskreditkan tokoh, ulama, umat, dan bahkan Islam. 

 

Dengan dalih radikalisme, lanjutnya, ada kemungkinan spirit Islamofobia ditebar. Karena itu, Sudarnoto menilai tuduhan kepada Din berpotensi menumbuhkan spirit Islamofobia. "Tidak menutup kemungkinan setelah Prof. Din, tokoh atau ulama kritis lainnya akan dikenakan tuduhan yang sama oleh kelompok Islamofobia ini," kata Sudarnoto dalam keterangan, Rabu (17/2/2021). 

 

Menurut Sudarnoto, tuduhan kepada Din justru akan menyinggung perasaan para ulama dunia dan merugikan kepentingan bangsa. Sebab, Din merupakan tokoh dan ulama penting yang diakui dan terlibat dalam pertemuan ulama dunia di Bogor beberapa tahun yang lalu.

 

 

"Ini adalah tuduhan dan fitnah keji yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada seorang tokoh dan pemimpin muslim penting tingkat dunia yang sangat dihormati," jelasnya.

 

Sudarnoto mengatakan, Din selama ini telah mempromosikan wasatiyatul Islam atau Islam moderat di berbagai forum dunia. Masyarakat juga bisa melihat bukti dan rekam jejak Din untuk memahami pandangan dan sikapnya terhadap radikalisme dan bagaimana menangani paham tersebut.

 

"Bahkan tak segan-segan beliau mengkritik siapapun yang menangani radikalisme-ekstrimisme dengan cara-cara radikal dan ugal-ugalan," ujarnya.

 

Mendiskreditkan Islam

 

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jendral PA 212 Novel Bamukmin mengatakan, Rektorat ITB harus memberikan klarifikasi tentang tuduhan radikal yang disematkan GAR ITB terhadap Din Syamsuddin. Karena diduga tuduhan radikal yang dilakukan GAR ITB itu ada dugaan untuk mendisreditkan Islam. 

 

Oleh karena itu, lanjutnya, Rektorat ITB harus memberikan klarifikasinya apakah GAR ITB itu sudah atas nama perwakilan resmi mewakili kampus atau nama ITB dalam hal ini dicatut. “Karena sudah ramai bahwa sikap GAR ITB bukan mewakili dari pada ITB itu sendiri baik pihak kampus maupun para alumninya," ujar Novel Bamukmin kepada Harian Terbit, Rabu (17/2/2021).

 

Novel menilai, mereka yang mengatasnamakan GAR ITB telah gagal paham tentang pemahaman radikal dan apa rujukannya sehingga bisa-bisanya menuduh ulama yang juga cendekiawan muslim sebagai radikal. Karena hal tersebut jelas tidak nyambung dan jelas hanya penyesatan opini yamg kental dengan politik mungkar adu domba yang bertujuan membuat gaduh ketentraman umat beragama di Indonesia.

 

 

"Diduga kuat (kelompok GAR ITB) memiliki agenda pembunuhan terhadap karakter ulama yang istiqomah," tegas Novel.

 

Kelompok Kecil

 

Sementara itu mantan ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay mengaku sudah menelusuri kelompok yang mengusik Din Syamsuddin dengan isu radikalisme. 

 

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan ketua Fraksi PAN DPR RI itu, diketahui bahwa orang-orang yang mengganggu Din Syamsuddin hanya kelompok kecil. "Mereka mengatakan itu kelompok kecil saja di ITB, mengatasnamakan ITB seperti itu," ungkap Saleh," kata Saleh, Minggu (14/2/2021).

 

Dari penjelasan yang diperoleh wakil ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR ini, masih banyak pihak mendukung Din di ITB.

 

"Sebetulnya masih banyak pendukung Din di ITB. Mulai alumni, mahasiswa, dosen. Masih banyak yang bersimpati, menghormati dan tidak sesuai dengan pemikiran yang dilaporkan (GAR-ITB) itu," jelas Saleh.

 

Menko Polhukam Mahfud MD juga telah memberikan pernyataan terkait tuduhan radikal yang dialamatkan kepada Din Syamsuddin. Mahfud menegaskan sikap pemerintah tidak pernah menganggap mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu radikal atau penganut radikalisme.

 

"Pak Din itu pengusung moderasi beragama (Wasathiyyah Islam) yang juga diusung pemerintah. Dia juga penguat sikap Muhammadiyah bahwa Indonesia adalah Darul Ahdi Wassyahadah. Beliau kritis, bukan radikalis," kata Mahfud dalam akun pribadinya di Twitter, Sabtu (13/2/2021).

 

Salah Alamat

 

Dr.Sabriati Aziz M.Pd.I, Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) 2018 -2024 mengatakan,  “Prof Din Syamsuddin adalah sosok yang saya kenal tidak kurang dari 15 tahun. Tapi kami kenalan secara lebih dekat sekitar 5 tahun terakhir ketika

kami bersama di Dewan pertimbangan  MUI periode  2015 - 2020 dimana Prof. Din jadi ketuanya,” ujarnya. 

 

Melalui interaksi secara lebih dekat di Wantim MUI dan diskusi di berbagai forum dalam 5 tahun belakangan, Dr Sabriati menilai bahwa Din adalah sosok moderat, pemersatu dan berwawasan luas yang berdasar pada pemahaman Islam dan keilmuan yang begitu kuat. 

 

“Banyak wacana dan gagasan beliau yang memberi inspirasi pada kegiatan ormas-ormas Muslimah yang memiliki corak dan latar belakang yang beragam.  Maka wajar jika sosok Prof. Din   dirasakan sebagai pemersatu umat oleh berbagai kalangan,” paparnya